Satu bulan bergelut dengan buku Greg Barton yang menulis tentang biografi Gus Dur, membuat waktu selama WFH menjadi sangat berarti. Sudah sejak lama buku putih itu saya tenteng kemana-mana, semakin saya baca ke tengah semakin asyik dan menarik saja. Isinya begitu mengalir dan runtut dengan bahasa yang renyah dan mudah dipahami.
Buku ini dicetak pertama kali pada bulan Juni 2003, sungguh saya sangat terlambat membaca buku ini dan buku ini hanya saya pampang di rak perpustakaan pribadi saya tanpa ada keinginan untuk membacanya, walaupun sebenarnya buku karya Greg ini sudah lama saya beli ketika berziarah ke makam Gus Dur. Keinginan membaca buku ini muncul ketika warga Nahdliyin dihebohkan dengan buku "Menjerat Gus Dur" karya jurnalis muda Virdika Rizky Utama.
Cerita tentang Gus Dur menguak kembali ketika jurnalis muda itu menemukan dokumen-dokumen pelengseran Gus Dur dari kursi kepresidenan di Kantor DPP Golkar. Sontak, buku karyanya laris bak kacang goreng dan undangan seminar terus mengalir padanya. Memang tidak mengherankan jika warga NU masih sangat antusias meluruskan sejarah tentang Gus Dur.
Warga NU merasa tidak terima bahwa Gus Dur dilengserkan atas tuduhan kasus korupsi Buloggate dan Bruneigate, satu alasan yang dibuat-buat oleh DPR-MPR untuk menjungkalkan Gus Dur dari kursi kepresidenan. Walaupun di kemudian hari tuduhan itu tidak terbukti sampai beliau lengser dan kasusnya dihentukan oleh Kejaksaan Agung karena tidak cukup bukti untuk meneruskan kasus tersebut.
Kejatuhan Gus Dur lebih disebabkan oleh persekongkolan jahat orang-orang yang ingin melanggengkan oligarki kekuasaan pada rezim sebelumnya. Maka sangat tidak adil bagi Gus Dur jika pelengserannya adalah karena kasus korupsi. Tuduhan ini seolah menjadi ketidakadilan sejarah bagi Gus Dur yang nyata-nyata tidak pernah melakukan itu semua.
Kekaguman dan kecintaan saya terhadap seorang Gus Dur sudah saya punyai sejak kecil. Kebetulan bapak adalah seorang aktivis NU yang sangat gigih dan getol memperjuangkan NU, utamanya di desa saya. Gambar dan pemikiran-pemikiran Gus Dur sudah saya baca sejak masih di bangku MI. Kebetulan Bapak berlangganan majalah "Aula" yang terbit setiap bulan. Di sela-sela menjelang tidur saya sempatkan untuk melihat-lihat gambar-gambar dan persoalan seputar NU dengan tokoh utamanya Gus Dur di majalah tersebut. Pada dekade 80' an dan 90' an majalah Aula selalu memampang foto Gus Dur, karena memang beliau adalah Ketum PBNU yang dipilih secara dramatis pada Muktamar Situbondo Desember 1984.
Dari majalah itulah saya mengetahui foto dan sepak terjang Gus Dur di kancah perpolitikan Indonesia. Sebagai sosok yang fenomenal dan kontroversial, Gus Dur menyedot banyak perhatian publik sejak awal kiprahnya di NU sejak masih tercatat sebagai mahasiswa baik di Mesir maupun di Baghdad.
Membicarakan Gus Dur seolah tidak ada habisnya, karena memang pemikirannya sangat hidup. Buah pemikirannya tentang nasionalisme, kebangsaan, pluarlisme, Hak Asasi Manusia (HAM), persamaan di mata hukum, kebebasan pers sampai hari ini masih relevan untuk dikaji dan dijadikan dasar untuk bersikap dan berperilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Sebagai seorang yang dilahirkan dari keluarga pesantren, Gus Dur kecil tumbuh di bawah asuhan ayahandanya KH. Wachid Hasyim. Gus Dur kecil dibawa ke Jakarta oleh ayahnya yang berkiprah sebagai tokoh nasional pada waktu itu. Sangat tidak mengherankan apabila Gus Dur mewarisi darah sebagai pejuang dan tokoh reformis pada saatnya nanti. Sejak kecil Gus Dur sudah dikenalkan pada tokoh-tokoh elit Jakarta yang menjadi mitra dan sekaligus teman ayahnya di Jakarta.
Ketokohan Gus Dur tidak hanya karena beliau adalah seorang cucu ulama besar pendiri organisasi keagamaan terbesar di dunia KH. Hasyim Asy'ari. Lebih dari itu, Gus Dur memang punya kelebihan, utamanya ketajaman berfikirnya. Gus Dur juga ditopang oleh minat bacanya yang tinggi terhadap ilmu pengetahuan. Membaca bukan hanya sebagai kebutuhan, lebih dari itu membaca adalah sebuah hobi dan kegemaran bagi Gus Dur dalam kehidupan sehari-harinya. Tak jarang, banyak waktu yang dihabiskan oleh Gus Dur untuk membaca karya-karya mulai dari Islam klasik, filsafat Yunani, bahkan sampai karya-karya tokoh soaialis seprti Karl Max dan Lenin.
Hobi baca Gus Dur inilah yang mengantarkan beliau pada kemampuan berfikir tajam dan kritis terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya. Dipadukan dengan mobilitasnya sebagai tokoh pergerakan Islam moderat, jadilah Gus Dur seorang tokoh yang disegani pada zamnnya dan mengantarkannya menjadi Ketum PBNU. Sebuah organisasi kemasyarakatan terbesar di Indinesia dengan jumlah pemeluk mencapai 30 juta orang.
Dengan kemampuannya juga, Gus Dur menjadi salah satu penantang rezim tiran Soeharto yang telah memerintah selama 32 tahun. Pada akhirnya, Gus Dur dan teman-temannya yang muak dan prihatin dengan keadaan rakyat Indonesia yang ditindas oleh rezim otoriter Soeharto, mampu menumbangkan rezim totaliter Soeharto pada 21 Mei 1998 dan mengantarkannya menjadi presiden ke-4 Indonesia.
Menjadi presiden di masa transisi tidaklah mudah. Peralihan dari rezim orde baru yang korup menuju arah reformasi yang bebas dari segala belenggu ketidakadilan dan penindasan membuat Gus Dur bersikap sangat tidak populis. Alih-alih melanggengkan kekuasaannya, Gus Dur justru menantang antek-antek rezim lama dengan menyeret mereka ke meja hijau. Gus Dur tidak mau bernegosiasi dengan pihak manapun yang mencoba menghalangi laju reformasi. Hasilnya sudah bisa ditebak, perlawanan tak kalah sengit ditunjukkan oleh musuh-musuhnya dengan segala cara. Akhirnya, Gus Dur pun tumbang dengan segala rekayasa dan alasan-alasan konstitusional yang dibuat-buat oleh DPR-MPR melalui sidang istimewa.
Kini sejarah Gus Dur adalah tonggak perubahan perjalanan sebuah bangsa yang mencoba bangkit dari segala keterpurukan. Perjuangan menuju demokrasi yang dicita-citakan tidak sepenuhnya disambut dengan suka cita. Ada saja pihak-pihak yang merecoki untuk melindungi kepentingan dan hegemoni kekuasannya.
Gus Dur sebagai negarawan tidak pernah merasa rugi atas proses impeachment yang dilakukan oleh DPR-MPR. Kebenaran tetaplah kebenaran yang harus diperjuangkan, karena di dunia ini tidak ada jabatan yang perlu dipertahankan mati-matian, apalagi dengan tetesan darah dan nyawa.
Pada akhirnya bangsa ini sendiri yang akan menentukan nasibnya sendiri. Apakah agenda reformasi hanya sebuah ritual pergantian rezim tanpa adanya bekas menuju arah kemajuan? Ataukah reformasi hanya penanda pergantian baju rezim lama yang berkedok perubahan, namun dengan sistem dan gaya yang tetap? Wallahu a'lam.
Kegem Gus Dur. Al fatihah.

Amin² ya rabbal alamin,.
BalasHapusGus dur pernah menahkodai bangsa ini di masa tersulirnya, mengantarkan menuju gerbang reformasi,. Kalau tidak salah ingat, beliau pernah ngendikan "demokrasi bukan pasar". Bersikaplah bijak dan dewasa dalam menghadapi demokrasi, agar bangsa ini tidak semakin terpuruk.
Saya baca sampqi tuntas pak... Lahul fatihah...
BalasHapusMatur nuwun konco2
BalasHapusSurga tempat terbaik bagi beliau.
BalasHapusDan smg bangsa ini bisa blajar smakin dewasa, naik dari kelas TK...mampu mengendalikan nafsu dari gila akan goda kekuasaan.
keren bapak.
BalasHapus