Perayaan ‘Idul Fitri tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kemeriahan dan suasana riang gembira sedikit tertahan akibat Pandemi Covid-19. Perayaan ‘Idul Fitri yang erat dengan hiruk pikuk arus mudik, takbir keliling, shalat ‘Idul Fitri, silaturrahim, tidak kita jumpai pada tahun ini. Ketakutan dan keresahan masyarakat akibat penularan Covid-19, membuat masyarakat memilih beraktivitas di rumah. Selain itu, himbauan dan anjuran pemerintah yang gencar mengkampanyekan stay at home dan physical distancing turut memberikan andil sepinya perayaan ‘Idul Fitri pada tahun ini.
Kebijakan ini diambil sebgai salah satu usaha untuk menahan laju penularan Covid-19. Pemerintah menganjurkan untuk sementara waktu melakukan shalat ‘id di rumah dengan keluarga inti. Silaturrahim diganti dengan daring, memanfaatkan medi on line untuk bermaaf-maafan dengan sanak saudara dan kerabat.
Walaupun demikian, sejatinya tidak ada yang berkurang dari makna ‘Idul Fitri sebagai sebuah pesan kemanusiaan untuk kembali pada fitrah kesucian manusia. Manusia yang utuh, suci, dan bersih tanpa gelimangan dosa dan kesalahan. Kesucian 'Idul Fitri ditandai dengan meminta dan memberi maaf, hal tersebut menjadi sebuah simbol peleburan dosa diantara sesama. Perayaan 'Idul Fitri begitu agung dan mulia, ‘Idul Firtri menjadi garis finish dari rentetan penyucian diri yang dilakukan oleh umat Islam sejak dimulai dari Ramadhan, zakat fitrah, dan diakhiri dengan perayaan ‘Idul Fitri.
Pertama, Ramadahan adalah bulan maghfirah, di dalamnya banyak ampunan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Barang siapa berpuasa dengan iman disertai dengan mengharap pahala dari-Nya, orang mukmin akan memperoleh tiga keistimewaan pada bulan Ramadhan, salah satunya adalah maghfirah (ampunan). Ramadhan menjadi bulan istimewa, kareana di dalamnya Allah menjajikan banyak pahala, rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Maghfirah menjadi salah satu momen penyucian diri sebelum hamba tersebut menyandang predikat muttaqin.
Maghfirah menjadi rangkaian akan diterimanya puasa seseorang, karena secara nalar tidak mungkin Allah akan menerima puasa hamba-Nya, jika hamba tersebut masih dipenuhi dan disesaki dengan dosa-dosanya. Allah adalah Al-Quddus (Yang Maha Suci), Ia tidak akan menerima dan mengabulkan sesuatu yang dilumuri dengan kotoran dan dosa. Maka, sebelum diterimanya amal-amal selama puasa, Allah memberikan privilage kepada hamba-Nya yang berpuasa dengan dilandasi iman dan ihtisab yaitu berupa ampunan dari-Nya. Bagi hamba yang memperoleh maghfirah, leburlah semua dosa dan kesalahannya.
Kedua, Zakat fitrah menjadi momentum berikutnya untuk memperoleh kesucian diri. Dengan memberikan makanan pokok sejumlah 2,5 Kg, mukmin yang berpuasa menyempurnakan ibadah Ramadhannya dari perbuatan laghwu (perbuatan yang tidak berguna) dan rafas (perkataan kotor). Zakat fitrah menjadi simbol solidaritas persaudaraan yang kuat diantara sesama muslim. Di Hari Raya Fitri, Islam menginginkan semua bergembira di hari perayaan tersebut. Tidak boleh ada orang Islam yang kelaparan, anak yatim yang tidak mampu membeli baju, atau ibu-ibu yang kebingungan untuk memberi makan anak-anaknya. Pesan moral yang terdapat dalam zakat fitri, bahwa Islam mengajarkan kepada kita arti penting sebuah kepedulian. Sudah menjadi sunnatullah bahwa dalam kehidupan terdapat yang kaya dan miskin. Zakat menjadi penghubung diantara keduanya. Terlebih di saat ini, dimana pandemi Covid-19 membuat banyak orang kehilangan pekerjaan dan penghasilan. Peran zakat sangat urgen untuk ikut mengatasi dampak pandemi Covid-19
Arti ‘Idul Fitri
Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an menyebutkan arti ‘Idul Fitri terdiri dari dua kata. ‘Id berarti “kembali” dan fithr berarti “agama yang benar” atau “kesucian” atau “asal kejadian”. Kalau dipahami sebagai agama yang benar, maka ‘Idul Fitri menuntut “keserasian hubungan”, karena keserasian merupakan tanda kebergaman yang benar.
Fitrah berarti kesucian. Kesucian di sini dimaknai sebagai suara hati nurani yang selalu membisikkan kebenaran dan mengajak manusia pada kebaikan. Suara yang terbawa sejak lahir, walaupun surara tersebut sering terdengar lemah karena ditutupi oleh dosa-dosa manusia. Dengan gema takbir pada malam ‘Idul Fitri, suara tersebut muncul menggetarkan hati, seraya mengagungkan kepada Dzat yang Maha Tunggal disertai pengakuan akan keagungan-Nya.
Kesucian adalah gabungan dari tiga unsur; benar, baik, dan indah. Orang yang ber-‘Idul Fitri akan selalu bertindak baik, benar, dan indah. Dengan kesucian yang dimilikinya, ia memandang segala sesuatunya dengan positif, selalu mencari sisi baik, benar, dan indah.
Kesucian Idul Fitri dan Kebebasan Dari Covid-19
Islam sebagai agama yang fitrah selalu menganjarkan pemeluknya untuk selalu meenjaga kebersihan diri. Kebersihan baik secara lahir maupun batin, menjadi perhatian utama agama Islam dalam semua sisi kehidupan manusia. Mulai dari badan, pakaian, dan perabot yang digunakan oleh umat Islam tidak lepas dari perhatian Islam. Dalam setiap kajian kitab-kitab fikih, kesucian menjadi pondasi pelaksanaan ibadah yang akan dilakukan oleh umat Islam, mulai dari berwudlu, mandi, tayamum, dan istinja’.
Di masa pandemi ini, sekali lagi umat Islam diingatkan tetang pentingnya menjaga kebersihan. Penyebaran virus Covid-19 disebabkan oleh virus yang terbawa oleh seseorang yang kemudian menyebar melalui kontak yang terjadi antara satu dengan yang lainnya. Virus Covid-19 meruapakan salah satu virus yang sangat beresiko menular, salah satu cara menghambat penularan virus tersebut adalah dengan menjaga kebersihan diri. Kebersihan diri menjai kunci untuk menghambat penularan virus covid-19. Dengan membiasakan sering cuci tangan, mencuci pakaian setelah kembali ke rumah akan menyelamtakan orang-orang yang berkomunikasi di dengan kita.
Dari sini kita memperoleh sebuah gambaran bahwa sesuatu yang kotor amatlah tidak baik. Sesuatu yang kotor itu dapat membahayakan dan mengancam nyawa kita. Virus yang masuk ke dalam tubuh kita, manakala imunitas kita tidak dalam keadaan baik akan berdampak pada kesehatan kita. Yang ujung-ujungnya akan merugikan diri kita sendiri. Menjaga kesucian dan kebersihan memerlukan kebiasaan sejak dini, kebiasaan ini tidak ujuk-ujuk muncul ketika sudah dewasa. Perlu latihan yang kontinyu untuk membentuk pribadi yang selalu senang menjaga kesucian dan kebersihan. Keluarga menjadi kunci untuk menanamkan kebiasaan ini, sehingga dari keluarga yang selalu menanamkan kebiasaan suci dan bersih kelak mereka akan tumbuh menjadi generasi yang merasa risih jika melihat sesuatu yang kotor.
‘Idul Fitri di tengan Pandemi Covid -19 ini sekali lagi memberikan pesan kepada kita tentang pentingnya kesucian dan kebersihan. Selain Physical distancing, kebersihan menjadi kunci utama terbebas dari Covid-19. Kita diajarkan kembali untuk senantiasa disiplin menjaga kebersihan dan kesucian, dengan ikhtiar tersebut kita menyelamatkan diri kita dan orang-orang di sekitar kita dari bahaya Covid-19. Tidak hanya upaya menyucikan diri kita dari noktah-noktah dosa kita kepada Sang Khalik, kesucian dan kebersihan fisik juga harus diperhatikan.
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
Artinya: “Dan pakaianmu bersihkanlah.” (QS. Al Mudattsir ayat 4)
Ayat ini mempunyai indikasi yang jelas bahwa umat Islam harus menjaga pakaiannya. Pakaian menjadi simbol penutup aurat. Menutup aurat menjadi syarat utama untuk menyembah dan beribadah kepada-Nya.
Islam begitu indah, keindahan Islam salah satunya terletak pada ajarannya yang mengajak pemeluknya untuk senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan. Kesucian dan kebersihan adalah fitrah manusia, setiap manusia pasti akan menyenangi kesucian dan kebersihan karena Allah SWT sangat menyukai hamba-hamba-Nya yang bertaubat lagi menyucikan diri. Wallahu ‘alam.

Luar biasa... Sangat dalam pak...terimakasih ilmunya
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus