Langsung ke konten utama

Istiqamah



Sebut saja namanya Bapak Durijan. Lelaki paruh baya dengan tubuh tinggi menjulang. Di usianya yang sudah tidak muda, bahkan sudah menapaki senja, beliau tetap bekerja layaknya usia tiga puluh tahunan. Rumahnya sederhana, tidak ada kesan mewah dalam kehidupannya. Hanya seorang petani biasa dengan penghasilan pas-pasan layaknya orang desa yang lain. 

Ya, petani desa yang tidak jauh dari aktivitas becocok tanam, mencari rumput, dan memberi makan kambing dan sapi di kandang. Di pagi hari beliau awali aktivitasnya dengan subuh berjamaah. Kemudian menyapu halaman diteruskan ke sawah entah untuk sekedar melihat-lihat atau ada yang perlu untuk dikerjakan. 

Di usianya yang sudah senja sekitar tujuh puluh tahun, beliau disiplin dalam menjalani aktivitasnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki, Bapak Durijan tidak pernah alpa menunaikan kewajiban sebagai kepala rumah tangga. Walaupun tubuh sudah tidak bisa diajak kompromi karena usia, beliau tetap kukuh dan semangat mencari rezeki. 

Semua orang tahu, penyakit parkinson yang beliau derita bukan alasan berpangku tangan di usianya yang sudah tidak muda lagi. Hanya sekedar berjalan saja beliau setengah menyeret kakinya, kadang terlihat agak sempoyongan, tangannya tidak berhenti bergerak-gerak karena parkinson yang di deritanya. 

Apakah beliau mengeluh? Tidak ada guratan sedih dan putus asa di wajahnya. Tidak ada ucapan sambat dari mulutnya. Justru ekspresi ketenagan dan optimisme yang nampak dari wajah keriputnya. Semua beliau jalani dengan tabah, ikhlas dan sabar. 

Kebetulan rumah saya dekat dengan mushala. Bahkan, boleh dibilang satu pekarangan dengan mushala yang didirikan oleh ayah saya. Mushala pengukir kenangan di waktu kecil yang tidak pernah sepi dari riang canda anak kecil. Sedari kecil hingga sekarang, mushala depan rumahku selalu ramai dikunjungi anak-anak kecil untuk berjamaah dan mengaji. 

Di mushalaku adzan selalu berkumandang di lima shalat waktu yang ada. Riuh, canda, dan riang gembira anak-anak kecil di waktu Maghrib dan Isya' terdengar nyaring dari pengeras suara mushala. Para jamaah mulai berdatangan dari berbagai sudut lingkungan rumahku. Boleh dibilang mushalaku paling ramai, mulai dari orang tua, ramaja, hingga anak-anak. 

Bapak Durijan salah satu jamaah yang selalu di barisan shaf paling depan. Adzan berkumandang beliau langsung bergegas ke musahala. Beliau tidak pernah absen di lima waktu yang ada, kecuali sakit atau hajat yang lain. Kaki beliau sangat ringan untuk datang ke mushala. Sedari kecil sampai sekarang, beliau istiqamah melakukan jamaah shalat lima waktu. 

Bahkan, di mushala saya ada satu guyonan karena istiqamahnya beliau. Kehadiran beliau dianggap penanda shalat bisa dimulai. Tidak boleh mengumandangkan iqamah sebelum kedatangan beliau. 

Banyak yang iri dengan amal ibadah beliau, termasuk saya. Letak rumah di depan mushala bukan jaminan, berat untuk meniru beliau. Satu keistimewaan yang tidak dimiliki oleh setiap orang. Semoga beliau selalu diberi kesehatan, yang muda ini tidak bisa seperti engkau, tetapi yang muda ini selalu memperhatikanmu bahwa engkau hamba salih yang tidak pernah lupa terhadap kewajibanmu. Wallahu 'alam. 


Komentar

Posting Komentar